Cerpen Tentang Cinta dan Persahabatan | Sangat Menyentuh

contoh cerpen
Cerpen Tentang Cinta | bhembook.com

Cerpen Tentang Cinta – Masih saja hujan turun hari ini, dan mendung masih belum enggan untuk pergi dari kedudukannya. Jarum jam di arloji mungiiku sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi aku masih saja belum bisa keluar dari perpustakaan kecil ini.

Tugas-tugas kuliah yang menumpuk begitu banyak mengharuskanku pergi mencari literatur lebih banyak lagi. Oleh karena itu aku masih belum pergi dari tempat ini walau sebenarnya aku sudah rindu dengan nyamannya kamar kosku.

Tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Muncul nama Bunda di layar ponsel. Dengan malas aku menjawab,

“Halo Bunda.”

“Nadia akhir minggu ini kamu nggak puiang?”seperti biasa Bunda langsung memberondongku dengan pertanyaan yang sama,

”Aku masih sibuk Bun, minggu depan memang sudah mulai libur akhir semester, tapi aku juga masih sibuk sama penelitian ilmiah yang lolos iinal bulan lalu.” jawabku dengan enggan karena bosan diberi pertanyaan beliau.

“Terus kapan kamu bisa pulang, sudah hampir enam bulan kamu tidak pernah pulang, padahal jarak Jakarta dengan Surabaya hanya satu hari perjalanan naik kereta api, padahal kamu dulu rajin pulang tiga bulan sekali” celoteh Bunda panjang Iebar, aku hanya terdiam mengiyakan perkataan bunda.

“Nggak tahu bun, mungkin minggu depan.” Janji ku pada bunda.

“Apa gara-gara dia kamu malas pulang?” Tanya bunda

”Maksud Bunda?”

“Yaa, si Angga, mungkin,

“Nggak kok, aku Cuma lagi sibuk aja.”. kilahku sedikit sebel, karena nama itu masih tidak ingin aku dengar untuk saat ini.

”Pokoknya akhir minggu ini kamu mesti pulang, Bunda gamau tau, kamu bisa ijin satu minggu kan, habis itu kamu bisa balik ke Jakarta.” tanpa mendengar persetujuanku dan mengucap salam Bunda memutuskan telpon.


Kulihat dari jendela perpustakaan, hujan sudah benar-benar berhenti. Aku pun segera pulang. Masih terasa aroma tanah segar karena basah oleh hujan. Aku paling bahagia dan merasa nyaman dengan aroma ini. Aroma ini seolah membawa sejuta kisah yang telah dilupakan tapi terkenang kembali.

Aku teringat saat hujan berhenti seperti ini, dia akan mengajakku berjalan-jalan sambil menarik nafas dalam-dalam seolah-olah takut aroma lembab hujan akan segera hilang dihisap kembali oleh tanah. Dia bernama Angga sahabat sekaligus kekasihku sejak masih duduk di bangku SMP. Mengingat aroma ini akan selalu mengingatkanku padanya yang sudah pergi tanpa menoleh lagi.

“Nad, kamu tahu kenapa aku suka banget sama aroma tanah setelah hujan berhenti?”

aku hanya menggeleng tak tahu, lalu dia melanjutkan ucapannya sambil menggenggam tanganku.

“Aroma ini akan hilang saat panas matahari datang, ini seperti kamu. Kamu akan selalu menjadi aroma hujan buatku. Tiap kamu tersenyum, rasanya hatiku akan disapu oleh kehangatan, walau itu jarang sekali, karena kamu lebih sering memasang wajah tanpa senyum.

Tapi anehnya aku merasa saat-saat sementara itu seolah menunjukkan bahwa momen itulah yang tak ingin aku bagi dengan orang lain, yah sama dengan saat menikmati aroma tanah setelah hujan.” Aku hanya mendengar dengan pikiran tak mengerti. Tetapi entah kenapa hatiku seolah ingin meledak saat dia mengatakannya.


cerita pendek
Halte bus | bhembook.com

Tanpa terasa kenangan tentang Angga membuatku tidak sadar aku sekarang telah berada di halte bis seberang kampus. Bis masih belum datang dan untungnya hanya tiga orang yang sedang menunggu datangnya bis seperti aku. Untuk beberapa saat aku hanya melamun sambil menikmati pemandangan sekitar.

Ada seorang wanita seumuran bundaku berpakaian rapi dan trendi walau bentuk tubuhnya agak sedikit gemuk. Lalu tak jauh dari wanita itu berdiri seorang anak laki-laki berseragam SMA duduk di bangku halte sembari mendengarkan musik di ponselnya.

Dan ada seorang pria muda sepertinya juga sama-sama mahasiswa sepertiku sibuk memencet ponselnya dan sebentar-sebentar tersenyum menatap ponsel tersebut, mungkin dia sedang berkirim sms dengan kekasih atau gadis pujaannya. Melihat pria muda itu membuatku terlempar lagi ke masa lalu.

Dulu hampir tiap hari aku juga berkirim SMS mesra atau sekadar bertelepon ria dengan Angga untuk menanyakan kabar masing-masing Karena semenjak aku diterima di perguruaan tinggi incaranku di Jakarta. terpaksa kami menjalani long distance relationship, sementara Angga tetap melajutkan kuliahnya di Surabaya.

Kenyataanya, kenangan itu cepertinya sudah terjadi berabad-abad lalu. Aku lupa kapan terakhir kali aku dan Angga saling berkomunikasi dan tidak lagi saling peduli, apalagi setelah sebuah peristiwa menyakitkan itu. Ah, hatiku nyeri, kuputuskan untuk menghentikan kenanganku dengan Angga.


Sibuk mengamati ketiga orang itu membuatku tidak merasa bosan saat menunggu bis kota. Tak terasa bis yang sudah kutunggu-tunggu telah sampai dan aku juga bersama dengan ketiga orang itupun naik berbarengan. Untung saja penumpang di dalam bis tidak terlalu penuh. Akupun bisa duduk sendirian tanpa harus berdesak-desakan.,

“Permisi dek, boleh saya duduk disini?”Tanya ibu berpakaian trendi tadi padaku.

Walau sebenarnya aku ingin duduk sendirian tapi melihat wajahnya yang ramah membuatku tidak kuasa untuk menolak. Maka kupangku tasku dan Iapun duduk di sampingku.

“Baru pulang dari kampus ya dek?” Tanya ibu itu kembali mau tak mau aku menghentikan lamunanku dan menjawabnya ,”Iya bu.”.

tampaknya ia ingin melanjutkan bercakap-cakap denganku tapi ponselnya tiba-tiba saja berdering.

cerpen tentang cinta
Cerpen persahabatan | bhembook.com

”Ya halo.,”

Dari apa yang kudengar, separtinya ibu trendi ini sedang berbicara dengan anaknya, dan sepertinya mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius. Dari raut wajahnya mungkin topik pembicaraanya tidak tertalu menyenangkan. Setelah beberapa menit, pembicaraan pun selesai, merasa sedang diperhatikan ibu itu menoleh padaku dan tersenyum.

“Eh, maaf bu, saya tidak bermaksud menguping.” sahutku tergagap karena merasa tepergok memperhatikannya.

“Tidak apa-apa kok dek. Ngomong-ngomong adek sekarang semester berapa? tanyanya lagi dengan raut wajah kembali hangat.

“Semester empat bu.”

“0h, selisih setahun dari anak saya, anak saya laki-laki semata wayang sekarang sudah duduk di semester enam, ujarnya sambil menghela nafas,

“KaIau mendengar logat adek tadi sepertinya adek bukan asli orang Jakarta, aslinya darimana dek kalau boleh tahu?”

Asal saya Surabaya bu” jawabku sopan.

“Wah pasti rindu sekali dengan keluarga ya, kampung halaman saya di kota Malang lho” Hemm, tapi sudah hampir dua tahun ini saya tidak pulang kampung. makanya anak saya protes tiap harinya.

Mau bagaimana iagi dek, saya ini seorang single parent dan demi mengumpulkan uang untuk biaya kuliah anak saya itu sudah sangat susah. Karena di Jakarta saking sibuknya sampai saya lupa dengan anak saya. Celotehnya panjang Iebar.

“Maaf bu, kalau boleh tahu kenapa ibu sampai tidak sempat pulang kampong, apa setahun sekali juga tidak bisa? “akhimya akupun menjadi terhanyut dengan pembicaraan ini.

“Karena saya takut. Tiap kali kembali ke tempat asal saya, saya akan teringat kembali kenangan saya dengan mantan suami saya. Yah, bisa dikatakan perpisahan yang tidak bisa dianggap baik.Walah, omongan saya jadi makin ngelantur. Mungkin saya sudah lama tidak bisa ngobrol sesantai ini dengan orang lain, makanya saya bisa curhat panjang lebar, hahaha.”ia tertawa lebar, tapi sorot matanya pedih.

Entah kenapa aku malah ikut bersimpati dengan wanita ramah ini. Seperti seolah-olah aku menemukan seseorang yang memiliki nasib serupa.

“Tapi menurut adek saya pasti tidak adil bukan? Masa gara-gara hal sepele seperti itu saya sudah mengecewakan anak saya sendiri. Hah, capek rasanya. oya, sudah bicara panjang lebar begini tapi saya belum tahu nama adek, maaf ya, nama adek siapa?”

“Nadia bu”

“Kenalkan nama saya Widia.” dan kamipun saling berjabat tangan, beberapa detik kemudian kami sudah larut dengan pikiran masing-masing.


Enam bulan lalu, adalah terakhir kali aku pulang ke Surabaya, setelah ujian tengah semester biasanya aku pulang selama beberapa hari untuk melepas stress setelah ujian. Kebetulan enam bulan lalu bertepatan dengan hari ulang tahunku. Dan aku sudah tidak sabar ingin melihat kajutan apa yang telah dipersiapkan Angga untukku.

Waktu itu, seminggu sebelum aku pulang Angga telah berjanji akan menyiapkan kejutan yang istimewa untukku. Sebenarnya aku sudah tahu apa kejutannya, karena Silvi taman dekatku dan juga teman dekat Angga telah membocorkannya padaku.

Kata Silvi, Angga telah mempersiapkan acara makan malam romantis untuk kami berdua, bahkan Silvi ikut membantu persiapan kejutannya. Walau begitu tetap saja aku tidak sabar ingin segera mengetahui seperti apa kejutannya.

Dan hari ulang tahun ku pun tiba. Sehari sebelumnya Angga menelpon akan menjemputku pukul tujuh malam. Tapi hingga pukul 7.30 Angga belum juga datang, aku mencoba menelponnyanya, tapi tidak ada jawaban. Sampai satu jam aku menunggu tetap saja dia tidak datang.

Hatiku merasa cemas, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke tempat yang telah diberitahukan oleh Silvi. Sesampainya disana, aku merasa tersanjung. Ternyata tempat kejutannya berada di sebuah restoran romantis yang terletak di puncak gedung.

Baca juga: 3 Cerita Inspirasi Islam Terbaik Tentang Kematian dan Ibadah


cerpen tentang cinta
Cerpen cinta | bhembook.com

Kuedarkan pandangan menyapu tempat itu, tapi tak kutemukan sosok Angga. Yang membuatku sedikit terkejut adalah mendapati Angga dengan Silvi berdiri di sudut restoran di bagian yang sedikit tidak terlihat.

Pelan aku berjalan ke arah mereka, mungkin mereka sedang membicarakan persiapan kejutan untukku dan sengaja membuatku marah karena menunggu sebagai bagian dari kejutan itu.

“Ga, kumohon untuk sekali ini saja” Silvi berbicara dengan nada memohon

Aku terkesiap sepertinya pembicaraan mereka bukan tentang aku, maka kupasang telingaku baik-baik.

“Aku nggak bisa Sil, sudah kubilang kan dari sebelumnya” ujar Angga dengan nada kesal tanpa sengaja mala Silvi beradu pandang denganku, aku mencoba untuk tersenyum, tapi ia tidak menghiraukanku dan pura-pura tidak meiihatku.

“Jadi ini balasan kamu sama aku yang sudah berkorban banyak buat kamu? Walau kamu bilang kita ini Cuma teman dekat, tapi peristiwa-peristiwa kemarin menunjukkan kalau kamu juga punya perasaan sama aku.”

“Apa? kamu itu…” angga belum selesai bicara dan Silvi sudah menutup mulutnya dengan sebuah ciuman yang panjang. Bukannya menolak Angga hanya terdiam mematung.

“Angga..”, panggilku dengan suara parau karena tangisan, Angga menoleh dengan wajah pucat.

“Nadia..Nad aku bisa jelasin ini nggak seperti yang kamu bayangin.”

Tapi aku sudah tidak ingin mendengar penjelasannya lagi. Saat itu juga aku pergi dengan hati hancur. Keesokan paginya aku pergi dengan tiket kereta paling awal dan kembali ke Jakarta.

Bunda tidak bisa memaksaku untuk tetap tinggal. Angga terus menelponku tiap hari untuk mencoba menjelaskan semuanya. Setelah kuabaikan selama berminggu-minggu akhirnya telpon dan sms darinya berhenti juga. Dan hubungan kami berakhir begitu saja.


“Dek Nadia nggak pengen pulang ke Surabaya?” pertanyaan ibu Widia membuyarkan lamunanku sekali lagi.

“Pasti keluarga sudah kangen tuh, sepertinya saya juga akan pulang akhir minggu ini. Egois rasanya kalau saya tidak pulang hanya gara-gara trauma masa lalu. Lagipula tentu tidak adil buat putra saya kalau saya bersikap kekanak-kanakan seperti ini terus. Life must go on, kan?”

Mendengar ucapannya aku jadi teringat Bunda. Kuperhatikan senyumnya, hangat seperti senyum Bunda. Baru aku tersadar kalau selama inipun aku telah bersikap egois pada Bunda. Bunda juga tinggal sendiri di Surabaya, ditemani bik ijah pembantuku sejak aku kecil. Ayah telah meninggal dunia dua tahun lalu. Dan hanya gara-gara takut bertemu Angga lagi aku tidak ingin pulang ke rumah.

“Iya saya juga akan pulang, besok saya pulang bu.. oya, nampaknya saya sudah harus segera turun, di perempatan depan itu sudah dekat dengan kos saya. Sampai jumpa lagi bu, terimakasih banyak”pamitku pada ibu Widia dengan ramah.

Lalu aku berjalan kearah kos sambil memencet telpon Pak Arya. dosen pembimbing karya ilmiahku untuk minta izin tidak bisa mengikuti bimbingan untuk minggu depan. Berikutnya kutelpon Bunda dan tentu saja bunda amat sangat gembira mendengar aku akan pulang ke Surabaya.

“Bagus kalau begitu, oya nad, nanti kalau kamu sudah sampai sini Bunda pengen ngomongin soal Angga. Beberapa hari yang lalu dia ke rumah dan bicara dengan Bunda. Sepertinya selama ini kamu Cuma salah paham sama dia.”

Mendengar nama itu disebut lagi tersulut lagi emosiku.

“Ngapain Angga ngomong sama Bunda? Bunda jangan percaya sama bualannya.!,”

“Angga itu dimintai tolong Silvi untuk pura-pura jadi pacarnya agar mantan pacar Silvi tidak mengganggunya lagi. Hanya saja silvi menyalah artikan semua perhatian Angga. Kenapa Angga tidak menghubungimu lagi karena dia tahu kalau kamu sangat keras kepala dan kalau sudah sakit hati nggak bisa denger omongan apapun.

Lebih baik kalian bicara lagi. Kasihan Angga, semenjak putus sama kamu badannya makin kurus tidak terawat. Dia juga jadi lebih tertutup kata ibunya. Kebetulan bunda ketemu ibunya sewaktu arisan PKK.” Bunda bercerita panjang lebar mengenai Angga.

cerpen tentang cinta
Kampung halaman | bhembook.com

Cerita Bunda barusan hanya numpang lewat di telingaku. Sebenarnya aku juga bingung kenapa aku bisa secuek ini. Padahal aku dan Angga telah berpacaran cukup lama. Buatku sekarang bukan masalah Angga atau Silvi lagi yang paling penting. Yang terpenting aku bisa pulang dan menemui Bunda untuk mencurahkan semuanya.

Esok paginya aku pulang dengan kereta api, sekali lagi hujan gerimis turun mengiringi kepulanganku. Aroma khasnya menyerobot masuk melalui hidung dan berdesakan ke dalam benakku. Tanpa terasa aku jatuh tertidur dalam mimpi-mimpi masa lalu. Sesampainya di Surabaya, aku turun dengan gembira, tak sabar ingin melihat wajah Bunda lagi..

“Nadia..” sebuah suara yang sudah kukenal memanggil namaku.

Aku terkejut,

“Angga.” bisikku nyaris tiak terdengar.

Aku terkejut, sosoknya yang sekarang nyaris tidak kukenal. Tubuhnya kurus dan matanya cekung seperti kurang tidur,

“Akhirnya kamu pulang Nad, ternyata benar, hujan sudah mengirim kembali kamu kemari. Aku rindu” lanjutnya dengan suara pelan dan dalam.

Aku hanya terpaku di tempatku.

“Yah aku pulang.” bisikku sekali lagi nyaris pada diriku sendiri.

Baca juga:

KKN Unsyiah, Pengalaman Seru Kuliah Kerja Nyata di Aceh Jaya

24 Contoh Puisi Keren, Tentang Cinta dan Sahabat Lengkap!

5 komentar untuk “Cerpen Tentang Cinta dan Persahabatan | Sangat Menyentuh”

  1. Pingback: 6+ Puisi Terbaik Tentang Sahabat, Cinta dan Rindu - CERITA BUMI

  2. Pingback: 6+ Puisi Sedih Terbaik Tentang Ibu dan Ayah - CERITA BUMI

  3. Pingback: 6 Puisi Tentang Ibu dan Ayah yang Sangat Menyentuh

  4. Pingback: Cerpen Tentang Sahabat dan Cinta “Suratan Takdir”

  5. Pingback: Cerpen Tentang Sahabat dan Cinta “Suratan Takdir” | Bhembook

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top